Sanggupkah Aku? Kisah Nyata Perempuan Kecil Titipan Tuhan

[Inspirasi Hidup] Sanggupkah Aku? (Kisah Nyata Perempuan Kecil Titipan Tuhan)

Hidup memang tak selalu indah namun akan selalu ada keindahan dalam hidup, terkadang harapan dan keinginan tak sesuai dengan kenyataan tapi tak ada satupun di dunia ini yang diciptakan tanpa pasangan. Begitu pula saat musibah menimpa pastilah akan ada hikmahnya, dan juga sebuah masalah pasti akan dibarengi dengan solusi. Bagaikan sebuah film, kehidupan yang kita alami sudah terskenario dengan baik di dalam kitab Lauhil Mahfudz.
Dan setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing dan menjalaninya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin diantara mereka ada yang hidup dengan bergelimangan harta, hidupnya dipenuhi dengan kesenangan, sampai mereka yang hidup serba kekurangan dan mempunyai banyak cobaan. Akan tetapi rencana Allah tidak pernah salah dan Dialah Yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Hal itulah yang membuatku tidak pernah putus asa dan tetap semangat dalam menjalani hari-hariku. Terkadang saya sering membayangkan jika saja terlahir diantara orang kaya, tapi saya sangat mensyukuri kehidupan yang sedang kujalani karena bukanlah harta serta kekayaan sebagai penentu kebahagiaan seseorang tetapi bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah dengan tidak pernah mengeluh dan berputus asa.

"Dhila, sarapan dulu nak" panggil ibuku.

Tanpa berfikir panjang saya langsung bergegas dan terhentak dari lamunanku mendengar suara ibu dari luar pintu kamar yang seakan-akan tidak terdengar olehku.

"Iya bu, tunggu sebentar" jawabku

Dhila, itulah nama terindah yang diberikan orang tua saya terhadapku sebagai tanda pengenal bagi mereka dan orang-orang disekitarku. Saya terlahir di sebuah desa yang kebanyakan penduduknya adalah petani termasuk ayah saya.

Sesampainya di dapur, saya langsung mencicipi masakan ibu meskipun terlihat sederhana namun bagiku itulah makanan yang terbaik bagiku. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah beberapa orang temanku dan langsung mengajakku untuk menonton sebuah pertandingan futsal di lapangan yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahku. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, namun melihat mata mereka yang begitu mengaharapkanku untuk ikut dengannya selagi libur sekolah, akhirnya kuputuskan menontonnya bersama.

Namun sebelum sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba badanku terhenti seakan tak bisa digerakkan membuatku tertinggal jauh dari mereka. Entah mengapa seakan-akan ada sesuatu yang menahan diriku dan sepertinya menarik badanku yang lemah untuk menoleh ke belakang. Perlahan kugerakkan kepalaku kesamping dan membalikkan badanku. Akan tetapi tak seorang pun yang saya lihat, saat hendak mengejar ketertinggalanku dengan teman-teman tiba-tiba seorang anak perempuan yang berumur sekitar 10 tahun dengan pakaian yang kusut menarik bajuku dari belakang sambil menjunjung setandan pisang yang sudah matang dan terpisah-pisah.

"Kakak mau beli pisang?" pintanya dengan wajah yang memohon.

Melihat tubuhnya yang kian lelah membuatku merasa iba, akan tetapi saat hendak membantunya tiba-tiba badannya terhempas ke tanah dan kulihat tubuhnya yang kian melemah. Keringatnya bercucuran, serta kedua bibirnya mulai mengering. Tak ada satupun orang di tempat tersebut kecuali saya dan anak tersebut. Akhirnya tanpa berfikir panjang kulangsung membangunkannya dan menggandengnya ke sebuah batu besar yang tidak begitu jauh dari kami untuk beristirahat. Dijadikannya diriku sebagai tempat bersandar sambil menangis seakan-akan aku adalah kakaknya.

"Adek, kenapa menangis?" tanyaku kepadanya sambil mengelus rambutnya yang lurus.

Dia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya. Mendengar cerita dari anak tersebut membuatku seakan berhenti bernafas dan tanpa terasa air mataku membasahi tubuhnya yang mungil.

"Ya Allah saya sangat bersyukur kepada-Mu atas semua Karunia dan Rahmat-Mu, ternyata kisah kehidupan anak ini lebih menyakitkan dariku" Kataku dalam hati.

Anak tersebut mengingatkanku akan kehidupanku sewaktu kecil, tentang perjuangan dan ketidakputus asaan dan berharap kepada Allah SWT.

Ketika berusia 4 tahun, masih segar diingatanku akan diriku dikala tersebut. Ibuku mengalami sakit yang kata orang-orang penyakit lumpuh, dan memang sejak ibuku mengandungku dia sudah dalam keadaan tersebut. Orang-orang selalu mengatakan bahwa bagaimana mungkin orang yang sakit lumpuh dan tidak bisa tersentuh dengan air sedikitpun akan melahirkan. Hal tersebut membuat ibuku semakin takut, karena memang jika dilihat dari kondisinya saat itu dan merujuk pada logika maka suatu ketidakmungkinan. Bahkan pada saat itu dia tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan hanya dilakukannya adalah tidur. Beribu kekhawatiran yang timbul difikiran ibuku yang membuatnya semakin takut. Namun, dia hanya berdo'a kepada Allah karena yang bisa membantunya hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga saatnya aku dilahirkan kondisinya masih tetap sama, akan tetapi atas izin Allah tak ada sedikitpun masalah. Orang-orang kurang percaya karena melihat kondisinya yang kurang memungkinkan akan tetapi itulah kuasanya Allah.

Tidakkah mereka memperhatikan sebuah hadits yang mengatakan bahwa meskipun semua orang mengatakan "tidak" akan tetapi jika Allah berkata "iya" maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Karena di dalam Al-Quran juga telah dikatakan bahwa cukuplah Allah mengucapkan Kun fayaakun jadilah maka jadilah. Meskipun manusia mengatakan tidak mungkin namun segala Kuasa ada di tangan-Nya.

Hingga ketika saya berusia 4 tahun, keadaannnya masih tetap sama. Akan tetapi dia sudah bisa bangun dari tempat tidurnya namun belum bisa berjalan. Layaknya seorang anak-anak saya ingin bermain bersama teman-teman yang lainnya tapi teringat dengan jelas difikiranku tidak pernah sekalipun saya melakukannya, karena saya harus tinggal dirumah dan menjaga ibuku.

Meski tak banyak yang dapat saya lakukan tapi itulah yang kulakukan setiap hari. Hingga berusia 5 tahun ku hanya bisa melihat teman-teman sebayaku digandeng oleh ibunya kesana kemari sedangkan aku hanya bisa melihat mereka. Namun hikmah yang kudapatkan adalah banyak hal yang bisa saya tahu sejak usia tersebut, mulai dari surah Al-Fatihah, Surah An-Nas hingga Al-Maun. Oleh karena itu, saat memasuki TK saya sudah hafal huruf abjad dan juga angka. Namun sebagai anak yang masih polos saat pertama masuk Taman Kanak-kanak tangisku tak tertahan karena melihat semua teman-teman ditemani oleh ibunya.

Orang-orang berpendapat bahwa penyakit ibuku sepertinya tidak bisa disembuhkan mengingat sudah berapa lama dia menjalaninya. Mungkin mereka tidak mengetahui akan penyakit yang menimpa nabi Ayyub a.s, sebuah penyakit kulit yang dipenuhi ulat kemudian dinamakan kusta dan diderita selama 17 tahun. Dan atas izin Allah nabi Ayyub bisa sembuh karena kesabarannya. Penyakit ibuku pun perlahan-lahan sembuh saat aku mulai menempuh pendidikan sekolah dasar. Alhamdulillah dia bisa mengantarku ke sekolah dasar pada hari pertama. Kebahagiaan yang kurasakan saat itu tak bisa kudeskripkan rasanya jantungku ingn keluar. Setelah sakit selama beberapa tahun yang menurut orang-orang susah untuk sembuh akhirnya dengan pertolongan Allah ibuku bisa sembuh meskipun belum sepenuhnya.

Keceriaan dalam hidupku pun kembali setelah tenggelam beberapa waktu, dan layaknya seorang anak kecil hari-hariku dipenuhi dengan kebahagiaan bermain bersama teman-teman. Namun mungkin itulah hidup tak selamanya sesuai dengan keinginan, keceriaan yang kualami tak berlangsung lama. Menduduki bangku kelas III sekolah dasar sebuah masalah menimpa keluargaku, ku belum tahu yang sebenarnya karena usiaku yang masih kecil tapi pada saat itu ayahku pergi meninggalkan ibuku. Orang-orang bertanya kepadaku dimana ayahku sekarang dengan cara menyindir dan meledek seakan menusuk relung hati. Saat ku bertanya dimana dia sekarang ibuku hanya terdiam dan mungkin hal inilah yang juga membuatku terpukul.

"Kasihan, ditinggal sama ayahnya" begitulah kata orang-orang terhadapku dan sebagai anak kecil saat itu saya hanya bisa mengatakan bahwa dia hanya merantau untuk mencari nafkah.

Hari demi hari kulewati tanpa sosok seorang ayah dan untuk menghidupi keluarga, ibuku yang belum sembuh sepenuhnya membuat beberapa gorengan dan menyuruhku untuk menjualnya. Kubawa jualan tersebut setiap kesekolah akan tetapi kubelum tahu cara untuk menjual karena ini merupakan pertama kalinya. Saat pulang kulihat wajah ibuku yang berseri-seri didepan pintu seakan menunggu kepulanganku. Kulihat dia menghitung hasil jualannya namun ternyata banyak kerugian yang didapatkannya. Bagaimana tidak seorang anak kecil sepertiku yang belum tahu tentang jual beli mudah untuk dibohongi orang lain atau para pembeli. Rasanya hatiku ingin berteriak pada saat itu melihat betapa susahnya ibuku membuatnya namun ternyata hasil yang didapatkannya tidak sesuai.

"Ya Allah aku rindu dengan ayahku, kapankah dia akan kembali" itulah doaku setiap harinya dengan penuh pengharapan kepada-Nya.

Usiaku semakin bertambah namun ayahku masih belum pulang atau mungkinkah dia tidak akan kembali lagi. Ejekan dari orang-orang terhadapku semakin tak henti-hentinya mereka mengatakan bahwa ayahku telah menikah. Tentu saja hal tersebut membuatku terpukul dan menghanyutkanku dalam kesedihan. Seiring bertambahnya usia pengetahuanku pun semakin tinggi apalagi di bidang Matematika sehingga sejak kelas IV sekolah dasar saya selalu mewakili sekolahku untuk mengikuti olimpiade Matematika, walau tanpa sosok ayah. Namun kondisi ekonomi keluargaku semakin memburuk sehingga dengan penuh kesabaran dan keikhlasan sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu kakiku melangkah ke sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari sekolah. Bermacam-macam jualan yang kubawa ke tempat tersebut mulai dari pisang, kacang ditambah lagi titipan dagangan dari orang lain yang dipercayakan kepadaku.

Dengan memakai pakaian seragam sekolah ku duduk disebuah tempat dan membentangkan tikar yang kubawa lalu duduk diatasnya. Namun tidak begitu banyak pembeli sehingga membuatku harus menunggu lama. Dan kulihat beberapa orang yang juga memakai seragam sekolah tengah menertawaiku sambil mengejekku. Tak ku perdulikan mereka meskipun hatiku sedang menangis mendengar ucapan mereka. Tidak pernah ku sesali keadaanku karena ku yakin Allah mempunyai rencana yang terbaik bagiku. Terkadang saya harus kembali dengan keadaan yang sama tanpa membawa sepeser uang, sehingga saat ke sekolah seringkali aku tak membawa apapun dan kuhanya bisa melihat mereka yang makan dikantin sekolah. Sepulang sekolah pun kuharus kembali menjual titipan orang  dengan berkeliling desa namun hasil yang kudapatkan meskipun tak seberapa setidaknya bisa membantu ibu.

Saat bulan Ramadhan telah tiba, tak ada yang kuminta kepada Allah selain mengharapkan agar ayahku pulang ke rumah. Ditengan kesunyian malam, saat semua orang tertidur pulas menuggu waktu sahur kumasih terjaga dari tidur hanya suara jangkrik yang menemaniku. Kubangun dan berdo'a kepada Allah agar ayahku bisa pulang, itulah yang kulakukan setiap malamnya. Namun Ramadhan tahun itu kulewati tanpa bersama dengannya, kuhanya berfikir mungkin Allah akan mengabulkannya beberapa saat lagi.

Pagi itu terasa cerah sehingga membuatku ingin keluar rumah dan bermain bersama teman-teman. Sinar matahari pun semakin menyengat tubuhku hingga bercucuran keringat, karena lelah kuingin kembali kerumah. Betapa terkejutnya ketika ku melihat sesosok laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu sambil memakai topi tengah melihatku dari kejauhan. Karena penasaran aku pun mendekatinya dan kulihat dirinya yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Jantungku pun semakin berdebar kencang saat semakin dekat dengannya dan ternyata dia adalah sosok yang selama ini kurindukan.

"Ayah..." ku peluk dirinya sambil menangis tersedu-sedu, kucubit diriku untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Kulihat dia mengusap rambutku yang sedikit bergelombang, mungkin ini adalah jawaban dari do'aku selama ini kepada Allah. Rasanya badanku ingin meleleh karena kebahagiaan ini. Hal tersebutlah yang selalu membuatku yakin bahwa selama manusia berdo'a dengan sungguh-sungguh dan penuh khusyu' kepada-Nya maka Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya. Keyakinanku semakin bertambah bahwa Allah akan senantiasa mengabulkan do'a hamba-Nya tapi tidak dengan sekaligus dan bukan berati Allah tidak mengabulkan do'a kita akan tetapi Dia Maha Mengetahui waktu yang tepat untuk mengabulkannya.

Sebelum mentari menampakkan dirinya ku terbangun dan betapa senangnya hatiku saat melihat ayahku sudah ada di rumah. Hari pertama kepulangan ayahku setelah pergi entah kemana membuatku ingin selalu memandanginya.

"Dhil, ayahmu sudah pulang?" sebuah pertanyaan yang membuatku merasa senang. Tentu saja kujawabnya dengan gembira karena sosok seorang ayah sudah ada di dekatku. Segudang cerita dan kesedihan ingin kuceritakan kepadanya, perlahan ku berjalan mendekatinya yang duduk di teras rumah. Saat mendengar curhatan dariku kulihat air mata membasahi pipinya yang mulai berkerutan.

"Ayah minta maaf nak, dan Insya Allah akan kuganti penderitaan yang selama ini kamu alami." Rasa bersalah menyelimuti hatinya seakan kesalahannya tidak bisa diampuni. Memang saat itu semua keluargaku belum bisa menerimanya karena telah meninggalkan keluarganya selama satu tahun lebih. Dan kukatakan kepadanya untuk tetap bersabar dan berusaha agar dia bisa dimaafkan.

Tetapi kehidupan tak selalu indah, bagaikan sayur pastilah akan hambar tanpa garam dan bumbu-bumbu. Namun semakin banyak bumbu yang diberikan akan semakin bagus pula akhirnya. Itulah kehidupanku, belum lama setelah kepulangan ayahku terjadi lagi beberapa masalah diantara kedua orangtuaku sehingga membuat hatiku terasa teriris-iris. Mengapa tidak, hampir setiap hari kumelihat ayah dan ibuku beradu mulut sehingga kebahagiaan yang baru saja kudapat seakan mulai sirna. Kuhanya bisa masuk ke dalam kamar dan menangis tapi sedikitpun tak pernah aku menyesali nasibku.

Sempat ayahku ingin meninggalkan rumah lagi dan mengatakan tidak akan kembali, tapi entah mengapa kulihat raut wajah yang penuh penyesalan pada dirinya. Tentu saja hal tersebut membuatku tertekan sehingga keadaan memaksaku untuk kembali membantu ibu. Tapi berbeda dengan sebelumnya, kali ini ku harus keliling desa untuk membeli jambu mete dari warga, meskipun terkadang kuharus pulang dimalam hari. Lelah, itulah yang kurasakan disaat harus membawa beberapa liter jambu dengan jarak yang lumayan jauh. Kembali lagi ejekan dari teman-teman terdengar ditelingaku yang mengusik ketenanganku. Tapi ku hanya berfikiran mungkin mereka mendo'akan ku untuk menjadi pengusaha yang sukses.

Tapi kuyakin Allah tidak pernah tidur, dan tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuannya. Alhamdulillah disekolah, ku sering mendapat beasiswa berprestasi yang tentu saja bisa membantu keuangan orang tuaku. Kupun pulang dengan wajah yang berseri-seri, namun tak kulihat seorangpun dirumah. Memang ayahku pulang disaat matahari sudah tak menampakkan dirinya, lalu ku cari ibuku di seluruh ruangan yang ada di rumah. Kulihatnya sedang tertidur di kamar tidak seperti biasanya, kebahagiaanku pun seakan terhanyut oleh derasnya arus air sungai. Kubangunkan ibuku dengan harapan membuatnya senang atas beasiswa yang kuterima, namun kulihat wajanya pucat dan kuurungkan niatku untuk memberitahunya sembari bertanya tentang keadaannya.

"Ibu tidak apa-apa?" namun tak ada jawaban darinya. Kusentuh dahinya ternyata badannya panas, dan kuberfikir mungkin dia sedang demam. Namun, sudah beberapa hari ibuku tak kunjung sembuh. Kulihat bintik hitam mulai menyelimuti badannya, yang pada saat itu kumasih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar. Orang-orang mengatakan bahwa ibuku mengalami sakit tipes dan sempat ku berfikir mungkinkah penyakit seperti yang dideritanya dulu. Hatiku bertanya-tanya dengan disertai perasaan takut dan cemas. Ternyata, benar penyakit ibuku yang dulu kembali lagi yang sepertinya tak ingin berpisah dari ibuku.

Hingga akhirnya ku tamat dari Sekolah Dasar namun keadaan ibuku masih tetap sama. Kebingunganku semakin bertambah karena kutak tahu dimana harus melanjutkan pendidikan mengingat kondisi ibuku yang sedang sakit. Apalagi jarak antara rumah dan sekolah tersebut sangat jauh. Jika kupergi sekolah pastilah tidak ada yang menjaga ibuku, tentu saja aku takut terjadi sesuatu dengannya. Akan tetapi ibuku mengatakan bahwa Allah akan selalu ada bersamanya.

Akhirnya kumulai perjalananku di Sekolah Menengah Pertama meskipun pada awalnya banyak ledekan dari orang-orang mengenai diriku. Rasa senang dan sedih menyelimuti diriku di hari pertama sekolah. Tentu saja hatiku senang karena kutak menyangka akan sekolah di sana, akan tetapi ku sedih karena harus meninggalkan ibuku sendiri dirumah. Sebelum mentari menampakkan dirinya ku sudah beranjak dari rumah, tak ada yang menemaniku kecuali suara ayam dan kicauan burung. Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak melewati jalanan yang dipenuhi dengan lumpur dan bebatuan. Itulah yang kulakukan setiap harinya, meskipun terkadang aku terlambat.

Kadang diperjalanan kuharus ditemani oleh air mata langit yang membuatku harus belajar di sekolah dengan keadaan basah. Namun, saat disekolah pikiran dan jiwaku ada di rumah. Kutak henti-hentinya memikirkan ibuku apalagi mengingat kata orang-orang yang menusuk relung hatiku. Banyak cercaan yang kudengar semenjak ku sekolah disana, dan mengatakan bahwa aku tidak akan bertahan. Berbagai rintangan kulewati namun ku tetap yakin bahwa Allah mempunyai rencana yang terbaik untukku. Teringat dibenakku akan Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa jika engkau tidak tahan menahan lelahnya belajar maka engkau akan menanggung perihnya kebodohan. Kata tersebut terus terbayang-bayang difikiranku sehingga membuatku tetap semangat. Apalagi menuntut ilmu adalah salah satu bentuk jihad.

Tapi hal yang membuat hatiku menjerit dan menangis adalah saat ku pulang dari sekolah tak ada yang menyambutku. Sesampainya dirumah ku hanya melihat ibuku yang terbaring di kamar dengan selimutnya. Dan melihat beberapa macam obat yang ada di dekatnya. Tak ada tempat curhat saat hatiku merasa sedih, selain kepada Allah.

Namun, hatiku akan senang jika sepulang dari sekolah kulihat ibuku duduk didepan radio sambil memakai selimut sembari tersenyum saat melihatku. Ingin rasanya ku berteriak dan mengatakan bahwa lebih baik aku saja yang sakit dan menggantikan ibuku. Sedih rasanya harus melihat ibuku terbaring sakit di kamar, dan tak berbicara sedikitpun. Terkadang aku ingin membangunkan ibuku karena ingin melihatnya tersenyum dan berbicara tapi ku tak tega harus melihatnya kedinginan. Saat melihat teman-temanku tertawa bersama dengan ibunya, bercanda bersama, ku hanya bisa menangis karena melihat ibuku yang sedang tertidur.

Banyak hal yang telah dilakukan dengan harapan ibuku bisa sembuh, hingga pada suatu hari seseorang asing datang kerumahku dan mengatakan bahwa ternyata selama ini penyakit ibuku diakibatkan karena kedengkian orang lain, mungkin bisa diistilahkan dengan ilmu hitam. Dan dia menyuruh melakukan sesuatu yang menjurus kepada musyrik. Tentu saja hal tersebut membuatku takut akan tetapi pada saat itu ibuku berada dalam kepayahan dan mungkin disitulah peran syaitan. Namun, tak sengaja tiba-tiba ku mengingat perkataan Ustads yang menceritakan tentang Nabi Ayyub alaihissalam. Bahkan do'anya diabadikan dalam Al-Quran, yang kemudian Allah SWT menyembuhkan penyakitnya, dimana menurut ukuran manusia sangat mustahil penyakitnya akan sembuh.

Mungkin inilah hidayah dari Allah, akhirnya hari demi hari penyakit ibuku mulai sembuh dan kutemukan kembali keceriaan yang telah lama tenggelam. Karena kuselalu yakin bahwa Allah tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya. Selagi kita masih berusaha dan berdo'a maka Allah akan mendengarkan do'a hamba-Nya. Dan kini kesehatan ibuku sudah kembali dan kami semua sudah berkumpul, kuhanya berharap mudah-mudahan kedua orang tuaku diberi umur panjang dan kesehatan. Sekarang ku melanjutkan pendidikan di sekolah unggulan, yang tentu saja tidak terlepas dari Kuasa Allah SWT.

Tak ada yang kusesali dari cobaan tersebut, akan tetapi dengan adanya berbagai masalah tersebut justru semakin membuatku yakin kepada Allah dan menambah keimananku kepada-Nya. Bahkan cobaan tersebut semakin membuatku kuat dan tegar jika menghadapi masalah-masalah, karena aku sudah terbiasa dengan hal tersebut. Dan sebuah pepatah mengatakan bahwa nahkoda yang tangguh tidak akan lahir dari air yang tenang, akan tetapi dari berbagai macam ombak yang dilaluinya................. 

                                                                                 
SEMOGA BERMANFAAT !!!!!

Nurfadilah Zahratul Wahidah
Link sumber: https: /www.kompasiana.com/dhilazahwa